Sabtu, 17 November 2012

Cinta Yang Berduka

Cinta adalah kesegaran dan keharuman bunga yang dikirim surga untuk membuat dunia tersenyum


Parasnya laksana embun menyambut pagi , dan mengilhami bunga untuk menebarkan keharuman dimusim semi, mengilhami kumbang untuk meresapi  tentang keindahan sari .

Dengan segala kecantikan dan pesona hati yang begitu sempurna, semua orang akan menilai ia adalah gadis paling beruntung, hidupnya dipenuhi oleh kesenangan dan kegembiraan.


Namun siapakah yang menyangka bila duka dan derita telah memenjarakan gadis tersebut?....

Siapakah yang bakal mengira bahwa jiwanya telah terangkat lalu terbang dari tubuhnya- untuk mencari keagungan cinta...Tiada seorangpun tahu tentang  duka hati yang membaluti jiwanya...tiada seorangpun tahu tentang ratap tangis dan rintihan kalbunya dikeremangan malam...

Dibalik cahaya bintang dan bulan aku melihat jasadmu terkulai laksana merpati yang patah sayapnya, engkau memanggil-manggil pasangan jiwamu, yang juga terkapar dalam sayap kerinduan...

Memang pesona kecantikan yang dia miliki dapat menyembunyikan kesedihan hati akan penyakit cinta, tapi bukanlah obat sesungguhnya dari penyakit itu...Obat itu sesungguhnya ada pada orang yang telah mencuri hatinya... orang yang selalu dikenang ketika siang dan menjelma mimpi dikala malam.

Tiada seorangpun yang dapat  mengerti dan memahami kesedihan hatinya begitu pula  keluarga dekatnya ,  belahan jiwanyapun menjalani nasib yang sama , seorang diri ia mengelana ditengah hutan dan lautan perasaan.

Bahkan cinta merasakan penderitaan yang ia rasakan lebih perih dari pasangan jiwanya, Ia (si- belahan jiwa) terbebas dari aturan dan adat istiadat untuk menjaga martabat keluarga.

Tetapi cinta? Bintang  itu harus tersenyum pada sekelilingnya agar tidak dicap angkuh, semua yang ia perbuat berjalan beriringan dengan ukuran harga diri, semua yang ia lakukan harus sesuai dengan tuntutan masyarakatnya, demi  martabat keluarganya.

Tidaklah mungkin seorang putri  raja keluar dari istananya, dimana setiap pasang mata selalu mengawasinya; hasrat hatinya terpendam untuk  berjumpa dengan seorang pemuda yang tinggal di sebuah desa terpencil yang telah mencuri hatinya- desa yang belum pernah ia kunjungi sekalipun dalam mimpi...

Itulah tatanan dunia dan akupun memakluminya....

Ia harus terus tersenyum walau hatinya menangis, gemerlap dunia telah memaksanya untuk memakai topeng-topeng kepalsuan.

Kumohon padamu cinta...hentikan airmatamu, lepaskan segala gundahmu....

Aku mendengar rintihan jiwamu, aku mendengar resahmu , kucoba untuk menjawab setiap pertanyaan bathinmu...kemarilah cintaku bersandarlah dibayang bahuku, yakinlah bahwa aku akan ada disetiap bayang...Ulurkanlah sayap patahmu, kan kugapai dan kusembuhkan dengan kepakkan syair jiwaku.

Aku akan mengawalmu dari pencela-pencelamu....Bunga-bunga  boleh saja layu, tapi ku kan menjaga agar cahaya bunga  itu slalu merekah ditaman hati, lalu menjelma menjadi cahaya bintang yang mengisi kesunyian malam

Duhai cintaku berjanjilah dihadapan langit dan bintang...sekalipun kita takkan bersatu, namun jiwa kita kekal dalam keabadian cinta.

Tersenyumlah bersama mentari, sampaikan salam kerinduanmu padaku-melalui desiran angin dan kicauan burung-burung diangkasa serukanlah segala impian indahmu...

Ketika ku mendengarnya, aku kan rentangkan sayapku, lalu kujemput jiwamu yang memanggil jiwaku, bersama kita berdua dalam rengkuhan sayap-sayap ilahi ,  menuju cahaya kebadian....
http://duniasastra.com

Senandung Titanic

The Titanic about to sink into the ocean, with the ship breaking into two parts and with smoke still coming out of the funnels.

Duhai cinta...

Engkau adalah  keharuman nafas surgawi , yang membuatku tak lagi mampu untuk memejamkan mata...

Sihirmu begitu mempesona , membuat hati yang gersang ini  menciptakan kedalaman samudera yang nyaris sama dengan kedalaman jiwa...

Hanya untukmu seorang , seluruh kerinduanku , impianku ,  angan dan harapanku berlabuh , karena hanya engkaulah segala keinginan bermuara...

Wahai senandung pagi serta kicauan burung dipagi hari....

Maukah engkau menyampaikan salam rindu pada kekasihku didaratan sana !....

Belailah rambutnya yang hitam berkilau untuk mengungkapkan dahaga cinta yang memenuhi hatiku......

Wahai semilir angin pagi yang mendamaikan dan menyejukkan jiwaku....

Sampaikan pada gadis yang memikat hati itu betapa pedih rasa hatiku jika tidak bertemu dengannya, hingga tak kuat lagi aku menanggung beban kehidupan....

Wahai semilir angin yang memporak-porandakan putik-putik bunga....

Tanyakan dirinya apakah dia masih mau berjumpa denganku?...

Apakah ia masih memikirkan diriku ?.....

Bukankah telah  kukorbankan kebahagiaanku demi dirinya?...hingga diri ini terpenjara sepi dan terbalut kegelapan didasar samudera ?! .....

Wahai semilir harum -kelopak  putik-putik bunga....

Maukah engkau membawakan keharuman rambutnya  padaku sebagai pelepas rindu?

Sampaikan salam , beserta kidung surgawi -pesanku ini untuknya :

Duhai kekasih hati ,....

Hatiku telah dikuasai oleh pesona jiwamu, kecantikanmu menusuk hatiku laksana anak panah, hingga sayap yang sudah patah ini tidak mungkin dapat terbang...

Engkau laksana dewi dalam gemilang cahaya...

Hanya untukmu seorang jiwaku rela menahan  kesedihan dan kehancuran..karena engkaulah menara kekuatan dan  airmata kebahagiaan bagi segala prahara hidupku...

Keindahan parasmu laksana ramuan ajaib yang memabukkan diriku , desah suaramu laksana mantra sihir yang tidak bisa aku hindari , ia menjadi sumber kebahagiaan yang telah memikatku untuk selalu mengenangmu...

Aku melintasi lorong waktu , merangkak dalam kegelapan , terbalut debu dan luka.... dari setiap titik darah yang menetes ini ,  ku harap dirimu membukakan pintu bagi jiwaku....

Sebuah tempat dimana kudapat berteduh dan menyandarkan tubuh serta jiwaku, hingga  kudapat merasakan sentuhan lembut jemari surgawi  yang bersemayam direlung jiwaku....

Duhai belahan jiwaku ,...

Dirimu selalu bertahta dihatiku ...siang slalu kupikirkan dan malam  menghiasi mimpi ...

Airmataku pun telah mengering karena selalu meratap dan merindukanmu...

Jeritan hatiku  bergema serta membelah kesunyian langit , memanggil namamu sebagai pengobat jiwa, penawar kalbu...

Entah mengapa badai dan prahara itu tiba-tiba datang , menghancurkan kebahagiaanku dan dirinya...

Separuh jiwaku  beserta bahtera jiwaku hilang tersapu badai  , terombang-ambing ia oleh gelombang lautan perasaan yang tak bertepi dan berdasar....

Dan demi rasa cintaku yang mendalam ...Aku rela berada dikedalaman samudera yang dingin seorang diri...

...Berteman lapar, menahan dahaga...

Wahai kekasihku, hidupku yang tidak berharga ini suatu saat akan lenyap....

Tetapi biarkan pesona kecantikanmu tetap abadi selamanya dihatiku...

2002
http://duniasastra.com

Perpect Body and Perpect Soul

http://duniasastra.com
Dalam impian masa remajaku
Kuingin memiliki tubuh dan jiwa yang sempurna,
Memang- tanganku yang kecil ini tak mampu untuk meraih segala yang kumau,
Tapi kuyakin jiwa yang ada dalam tubuh mungilku dapat merangkul semua ,
Dan aku yakin dapat merangkul raksasa walaupun aku sebenarnya seorang kurcaci.
Kan kugapai semua cita dan harapan -sekalipun itu semua
melayang lepas ataupun tergantung
diujung langit.

www.duniasastra.com

Pernah aku menangisi semua yang terjadi,
tapi kini air mataku mengering sudah,
Kucoba kubangun kembali puing-puing hidupku yang hilang,
aku susun sedikit demi sedikit puing-puing itu untuk kehidupan yang lebih baik dikemudian hari
Dan sekali lagi ku ucapkan !
Aku bukanlah seorang pemimpi yang menanti datangnya seorang peri.

Aku adalah si kurcaci raksasa yang memiliki tekad mengegelegar laksana halilintar
kokoh laksana bebatuan karang.
Jiwaku telah ditempa besi yang panas, terbakar , berabukan peluh ,dan berbunga api airmata.
Jiwaku menuntunku untuk bicara jujur,
sekalipun terasa berat, aku tetap berusaha.

Aku hanyalah manusia biasa,
Sesekali aku menyesali- tapi aku mencoba untuk tidak melihat masa silam ,
biarlah itu semua menjadi warna hidupku yang melecuti setiap arah langkahku.
Kucoba menegakkan tubuhku ini, walau pedih-perih terasa sesak dalam misteri.
Kucoba kuangkat kembali karung-karung bernama harapan, ku terjatuh,
Kucoba untuk bangkit kembali,
Aku terjatuh dan aku terjatuh......
Entah berapa kali aku terjatuh, aku tak dapat menghitungnya,

Namun aku masih bertahan ,
karena hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah perjuangan,
memasuki rahasia langit dan bumi,
serta mencipta dan mengukir kehidupan adalah tujuan akhirku.

Aku merasakan getaran aneh
ketika aku sedih, dan ketika aku bahagia, bagiku keduanya adalah sama.
Bagiku tawa adalah kesedihan yang terbuka dari penyamarannya.
dan tangis adalah kebahagiaan yang tertunda hari kedatangannya.
Dan kuyakin masih ada hari esok bersama Pelangi.
Aku terus berusaha dan berdoa,
Aku serahkan tubuh dan jiwaku sepenuhnya untuk-Mu Tuhan,
Lindungi dan dekatkanlah aku pada-Mu.
Rangkullah aku dengan cahaya petunjuk-Mu,
Dan ketika aku melihatnya,
Aku akan berlari Mengejarnya !.
Hartono Beny Hidayat

Kejahatan dan Hukuman


Justice

www.duniasastra.com
Didalam diri manusia , “ruh suci” tidak pernah sendiri, karena didalam dirinya manusia tetaplah masih manusia. Bahkan banyak diantaranya masih belum bersifat manusia –hanya bayangan kerdil makhluk tanpa bentuk, mengembara dalam tidur dibalik kabut mencari kebangkitannya.

Keadilan tidak serta merta  dipisahkan dari kezaliman , begitu pula kebaikan dan kejahatan. Keduanya sama-sama bergelar dihadapan wajah matahari , sebagaimana benang tenun hitam dan putih suci bersama menganyam selembar kain .

Dan apabila seseorang hendak menjatuhkan vonis atas nama ‘ hukum’ demi tegaknya keadilan , laksana  “Ia”  mengayunkan kapak ke batang pohon yang dihinggapi  “setan” , hendaklah “dia” melihat dahulu akar pohon itu-dan disana “ia” akan  mengetahui “akar” yang masih baik, akar yang sudah buruk, akar yg masih mengandung harapan serta akar kesia-sian yang hanya mengandung kemandulan jiwa.

Semuanya teranyam dalam jalinan mesra dipusat bumi yang diam. Dan kalian wahai hukum 2 yg harus adil , apakah hukuman yang akan kalian jatuhkan kepada orang-orangyang jujur dijasmani tapi tapi curang didasar hati ?!…..Putusan apa yg akan kalian timpakan kepada pembunuh manusia, tapi dirinya telah “tersembelih” dalam jiwa?!…Dan apa tuntutan kalian bagi para  “pendosa” yang telah tersiksa oleh penyesalan yangf melebihi besarnya tindak pelanggaran ?…..Bukankah rasa sesal juga bentuk hukuman yg ingin kalian langsung jatuhkan oleh hukum yang  “ sejatinya “ ingin kalian tegakkan ?

Bagi jiwa yg berhasrat untuk memahami keadilan, hampirilah rasa adil itu dengan benderang cahaya . Hanyalah demikian kalian akan paham , bahwa “Ia” yang tegak dan “Ia” yang jatuh , orang yang sama juga .Ia berdiri diantara keremangan surya , antara malam si”makhluk kerdil” dan siang hari si”Jiwa suci” . Dan nanti akan kalian sadari bahwa batu yang ada ada dipuncak singgana tidak lebih mulia dari batu landasan yang paling bawah.

Tentang Undang-Undang…..

Kalian membuat Undang-undang laksana anak-anak yang sedang asik dan serius membuat menara pasir dipantai lalu sambil tertawa gembira kalian hancurkan sendiri menara-menara itu……

Mereka melihat kehidupan seperti bongkahan karang dan Undang-undang sebagai pahatnya, untuk mengukir hiasan “hukum” menurut selera manusia.

Kalian jiwa yang terang dapat melihat orang yang berdiri dibawah sinar matahari tapi dengan “wajah berpaling” dan “ punggung membelakangi”….

Mereka hanya melihat bayangan sendiri dan bayangan itu mereka jadikan undang-undang.

Apa arti”Matahari” bagi mereka, selain merayap tersiksa menyusuri bayangannya sendiri. Tapi kalian jiwa yang berjalan menghadapkan “wajah” kearah “Matahari” , adakah bayangan diatas tanah yang akan menghalangi ?

………( Mari  kita renungkan !……………)
Hartono Beny Hidayat Elaborasi with KG

Tentang Kekayaan


www.duniasastra.com

Kekayaan Ibarat koin emas yang diletakkan secara vertikal diantara dua bola mata. Raihlah bekal dunia dan bekal akhirat secara seimbang dan janganlah kau buat dipincang keduanya, karena dengan dua mata itulah; hati dapat melihat- indah kedua sisinya.

Apabila tak mampu membuatnya seimbang maka raihlah kekayaan hati, karena dengannya jiwa senantiasa kaya walau sekiranya hidup dalam kemiskinan.

Ketahuilah wahai sahabat, bahwa kekayaan dunia -sejatinya dapat membutakan mata hati, maka lebih baik dan terhormat bagimu untuk mati diatas kekayaan hati , daripada mati diatas tumpukan emas permata ; dan menjadi kotoran diatasnya.

Hartono Beny Hidayat

Negeri seorang penyair


www.duniasastra.com

Airmataku menitik dari kelopak jiwa , menetes deras menggenangi tanah kering berduri,

Aku dapati bangsaku tertatih menahan lapar , dari sebuah negri yang kaya akan madu dan susu.

Aku saksikan dengan mata rahim kesedihanku, anak-anak negeri mati ditanahnya -yang penuh berkah ilahi.

Aku katakan padamu , apa yang dapat dilakukan- anak terbuang untuk bangsanya yang sekarat ?

Apa gunanya bagi mereka ratapan tangis seorang penyair yang tidak memiliki tempat untuk berpijak ?

Aku dengungkan hatimu dengan suara lirih , "dimana wujud mu berada wahai nurani?!'....'sudah matikah engkau diistana kehampaanmu ?"....

Ku coba menggetarkan semangat dari bahumu ,sekedar untuk membangunkan sukma agung- yang tertidur pulas dikedalaman jiwa setiap mata hati anak negeri...

Kini kutersadar dari keprihatinanku yang sia-sia , karena semua takkan mengenyangkan rasa lapar bangsaku, dan airmataku takkan menghilangkan dahaga anak-anak negeri...

Aku terjaga dari pembaringanku yang getir....wahai bumi , air dan benih yang ada digenggamanku....berjanjilah padaku bahwa engkau senantiasa hidup, dan bersama-sama tunas-tunas hari depanmu , selamanya bersemi ditanah ....tempat ari-ariku terkubur.....

Wahai kesegaran pagi yang menyejukkan, katakan kepada bangsaku, bila benih ini telah menghasilkan buah kehidupan, kuingin mereka senantiasa memenuhi genggamannya secara wajar... katakan juga pada bangsaku, agar saling berbagi benih , menyirami tunas dan menjaga kesuburan ladang-ladang ilahi dari ketamakan ...

Aku titipkan negeri miskin ini padamu semesta, dari negeri ku yang kaya raya....negeri seorang penyair.

Hartono Beny Hidayat,

1999

Kematian cinta sejati adalah awal keabadiannya


Cinta menulis surat ghaibnya untuk ku dan ia menulis syair-syair indah, gambaran mata hatinya:

"Saat cinta berkunjung ,aku tak tahu harus berbuat apa....

Dialah si-Jiwa misterius , yang terus menghantui dan selalu bernyanyi bagi jiwa sepiku...

Ia setia melantunkan senandung surgawi didepan pintu jiwaku....walau dia tahu pintu itu takkan kubuka untuknya...dengan ketulusan hati....ia membacakan syair cantiknya sebelum ku tertidur... www.duniasastra.com

'Wahai Mahadewaku...syair-syair cinta telah pergi dan berlalu dari jendela kamarku. Tapi aku masih tak tahu apa sesungguhnya cinta itu.'

"Ketika kau datang membawakan sekuntum bunga, aku kira itulah cinta. Ternyata salah. Aku rasa kau hanya bermaksud menitipkan sekuntum mawar yang terjatuh dari sepeda seorang penjual bunga yang lewat didepanmu.'

'Dari kebingunganku itu....aku ingin engkau percaya-bahwa dirimu tetap tinggal dihatiku...aku tak dapat begitu saja memusnahkan kau dari jiwaku...kau telah menggengam hatiku, dan engkau telah menenggelamkan perasaanku dilautan yang tak bertepi dan tak berbatas...'

Duhai Mahadewaku....dirimu selalu kukenang .... wujudmu tetaplah abadi.....walau engkau tahu hati ini telah tertambat dengan hati yang lain.....kuharap engkau takkan pernah kecewa, maka maafkanlah aku dan selamilah nestapa cintaku, dapatkah kau rasakan perasaan seorang gadis yang terperangkap dari seorang lelaki yang mengasihi dan lelaki lain yang mencintainya?! ......'

"Duhai pelangi....kadang-kadang aku mengharap jendela kamar ini ditebali dan diselubungi debu pekat agar cahaya mataku tak terlihat orang-orang yang melintas didepannya....Aku tak ingin menciptakan luka pada setiap jiwa-yang ingin sekedar mampir menghampiri jendela itu, seraya mengulurkan sesuatu yang membesarkan hatiku, tanpa tersadar aku telah memulai menghiasi matahatinya dengan kekecewaan....dengan lirih dan suara yang bergetar kuharap semilir angin akan mengabarkan semua rahasia hatiku padamu....."

Dari kastil yang berselimutkan kegelapan...terlihat sesosok penyair muda sedang meratap dari sebuah dinding megah yang dipenuhi puisi -perlahan dinding-dinding megah itu terbakar dalam kobaran bara api asmara...dia merentangkan tangannya , dan berteriak sekeras-kerasnya dari setiap ruh kelam yang mengelilinginya , tubuhnya terjatuh lunglai diatas abu kertas kehampaannya, dibiarkan olehnya sukma agung melayang-layang mencari separuh jiwanya yang hilang......

Dengan jemari gemetar dan lemah, sang penyair meraih pena lalu ia membalas surat itu....

"Duhai Mahadewiku...dikeramangan ini...bersama ribuan lilin jiwaku terbakar perih.....aku sangat kesepian.....berabad-abad aku hidup diatas atap kastil ini, tanpa sebuah pemahaman- melakukan apa atau menunggu siapa.....kini racun itu telah mengalir dan menyebar dalam darahku, aku merasakan lumpuh yang sebenarnya lumpuh....tubuhku terkapar diatas abu pembaringanku sendiri....aku tak dapat meggapai kembali bayngan ganjil serta inspirasiku itu, dan kini mataku menjadi buta, aku tak dapat membaca lagi , serta menggenggam lembaran puisi yang pernah tercipta itu...'

"Kini semuanya sedang terbakar, bunga-bunga api telah memandikan tubuhku yang tergolek lemah diatasnya....dari kobaran api dan kepungan asap yang membalut ragaku, aku tetap mencoba menulis kata-kata terakhir untukmu, kutoreh dan kutulis diatas kulit ariku yang melepuh dan terbakar '.....

"Seandainya kabut hitam telah menutup matamu sehingga dirimu tak mengetahui diriku yang sedang meregang nyawa diruang kehampaanku ini, setidaknya langit telah mendengar serta mengukir kisah sedihku ini , dan telah kutitipkan senyum serta kerlip terakhir untukmu pada bulan dan bintang.... Secepat mungkin kutuangkan segala , sebelum aku binasa dan runtuh bersama mahkota duriku ini dan kuyakin senandung malam akan mengabarkan semuanya kepadamu....kisah seorang pujangga pencari cinta sejati...dari jemariku yang terbakar dan luka yang tersayat -kukembali menulis rintihan suara hati...."

" Duhai kekasih hati , ..."

"Aku mendamba kala kelopak mataku terbuka kuingin kau disana , duduk disampingku seraya membawakan senyum dan setangkup rindu...."

" Hanya untukmu seorang , seluruh kerinduanku , mimpi-mimpiku , tangis - tawaku, syair -syair dan doaku - kubingkai dalam lautan bahtera jiwa...karena engkaulah lautan tempat segala bahtera keinginan bermuara.

Kini hatiku telah binasa , luluh lantak bersama istana kebesaranku...."

Dari puing-puing kehancuranku aku menceritakan padamu , dikala ku mencintaimu dengan sepenuh hati, hatiku telah menciptakan kedalaman samudera yang nyaris sama dengan kedalaman jiwa."

Engkaulah inspirasi bagi seekor merpati untuk berani melintasi awan putih guna menjemput kekasih impian.

Apakah cintamu masih bersemayam dalah sanubariku ?!....atau rasa sakit itu semakin lama semakin mengaburkan rasa cintaku darimu?!".....

Tidak !...Aku tetap mencintai dan setia menunggumu hingga ajal menjemputku!....

Aku tetap menyakini sesuatu yang hidup didalam raga ini adalah cinta sejati.

E ngkaulah yang menghadirkan cinta dalam hatiku, dan menjadikanku sebagai tawanannya.

Hanya engkau seorang dan satu-satunya Dewi cinta yang memahami - rahasia malam dan siang jiwaku...

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan hari ini , tanpa kehadiranmu disisiku...

Engkaulah Mahadewi tercantik dan termegah yang pernah kutaklukkan,

Kau tak seperti "Dewi-dewi" yang lain , yang singgah diistana jiwa ku , hanya untuk menikmati pijar mataku beberapa menit sebelum meraka pergi.

Ketika istanaku tertutup ilalang yang lebat dan nyaris tertelan bumi ,aku terpaksa menyanyikan senandung dan elegi cinta dengan keras membahana- berharap kelak ada sebuah pancaran matahati yang mengetahui keberadaanku disini, kemudian mengangkat jiwaku dari kegelapanku yang tak bertepi dan berdasar.....

Dan ternyata engkaulah - seseorang yang mengetahuinya.

Kau yang mengjhias istanaku dengan warna indahmu , kau yang bersihkan istanaku dengan hujan berkah yang turun dari kesucian langit....

Engkaulah yang mengelap kaca pekatku, hingga jendela kastilku kembali bening,

Kau singkapkan ilalang dari istanaku dengan kelembutan jemari-jemari cintamu yang berapi, lalu kau hidupkan beragam bunga diladang-ladangnya....

Bahkan kau telah bukakan pintu yang dulu kututup rapat, untuk melewatinya dan......tiba-tiba kita sudah bergenggaman tangan .....

"Duhai cinta, aku menginginkan dirimu sebagai matahari yang menyapa hangat relung jiwaku.....Engkaulah mata air kerinduanku , yang dengan kesegerannya telah cukup menghilangkan dahaga jiwaku"

" Aku berjanji akan meletakkan jiwamu diantara keterjagaanku yang satu dengan keterjagaan yang lain,

Digelap dan diterangku - jiwamu akan kusandingkan,

Dari setiap mata hati yang melihat dan menyapa dirimu -parasmu kuhias dan kuletakkan sebagai cerminan mata hati , karena kita telah sama-sama belajar menjadikan hati sebagai cermin,

Setiap pagi aku membukanya ...berharap kicauan pipit mengabarkan hikmah perjalanan kisah-kasih abadi kita - kepada setiap jiwa yang melintas "

Perlahan api dalam kastil semakin berkobar....terlihat kedua mata kaki sang pujangga telah terluka terbakar bara api...dengan lirih serta menahan sakit yang teramat, ia kembali menuliskan kisah kasihnya.....

' Airmataku mengalir jernih dari kelopak jiwa , seakan menyambut cengkeraman kuku-kuku maut, hanya sempat kurasakan dari ketidak-sadaranku kedua tanganku membentang seolah ingin menggapai langit...."

Sorot mataku tajam , sekan menembus atap kastil...

" Duhai matahari bakarlah gelora cinta dalam diriku....bakarlah hingga mengabu serta tertiup angin nan kelam !......"

" Angkatlah aku wahai kematian dari siksa ketersendirianku yang amat mencekam ! ..."

" Wahai maut , bidadari cantik pendamping hari akhirku ! ...Kudapati setiap merpati datang -kembali pergi, dan aku sendiri lagi....Dimanakah kekasihku , wahai maut yang lembut !...yang akan menerangi dan menjadikan pelita bagi tiap jejak langkahku?!...."

"Luka ini telah mengoyak bathinku, darah mengalir deras dari ruang biliknya....kini rasa cinta yang membawa ruhku terbang mengembara lepas , tak lagi berdiam di dalam kastil jiwaku ..."

" Kini aku bagaikan ulat-ulat yang hidup dari seonggok mayat , aku tak dapat lagi mencium keharuman bunga serta keindahannya !"......

"Jasadku terbujur layu dan terbakar....jiwaku memelas meninggalkan raga penyair muda itu...."

" Dengan hening , jemari maut mengangkat perlahan-lahan ruhku hingga terlepas dari raga , ruhku pun melayang-layang meninggalkan jasad yang ada didepannya , ingin kusentuh wajahnya untuk terakhir kali, namun apa dayaku -ku tak dapat merasakan kelembutan bibirnya , yang kini tersisa hanyalah asap duka dan bara api kesia-siaan....."

Tiba-tiba saja hujan datang dengan goresan kilat yang bergemuruh...kini semua telah sia-sia....hujan tak mampu lagi memadamkan api....praaahara dan badai telah meruntuhkan mahkota duri dan istana jiwa nya- yang kini menyatu dalam pelukan bumi

Tinggalah rintik-rintik hujan , diam menyenandungkan airmata kesedihan....

Malam berganti siang...siang berganti malam....abu jenazahnya perlahan-lahan hilang tersapu angin....

Angin bergolak mengabarkan cerita duka, tentang kematian seorang pujangga cinta , hembusannya mengalir kencang hingga pelosok negeri....

Tersadarlah para pengagung cinta dari keterjagaan mereka , kini telah kehilangan untuk selamanya sebuah "Lentera" yang mengajarkan mereka perihal hakikat cinta sejati...

Dibangunnya tugu peringatan diatas reruntuhan kastil tempat pembaringan abadi sang penyair....

Beragam muda-mudi setiap tahun merayakan indahnya cinta dan kasih sayang, diatas reruntuhan kastil itu .....berharap cintanya selamanya abadi ....

" Oh, betapa ironi dan malangnya nasib cinta sejati itu......diatas puing-puing kehancurannya sendiri , beragam wujud cinta sedang bersemi....dan guratan-guratan waktu telah membuktikan : Kematian cinta sejati adalah awal keabadiannya !"

- the end -
Hartono Benny H